Pedagang-pedagang UKM di Malioboro Direlokasi

Bagi para wisatawan baik lokal maupun internasional yang datang ke Kota Yogyakarta dan berbelanja di PKL yang berada di kawasan Malioboro. Maka, dalam beberapa waktu kedepan Anda semua akan mendapatkan suasana yang berbeda.

Karena, Pemerintah DIY di tahun 2022 ini akan melakukan penataan PKL pada kawasan tersebut. Nantinya para PKL tersebut akan dipindahkan ke area khusus yang memang sudah dipersiapkan oleh Pemda. Anda bisa menemukan para PKL tersebut di lahan bekas bioskop yang telah disulap sebagai sentra UKM.

Lahan yang akan digunakan oleh para PKL

Lokasi yang nantinya akan diperuntukkan bagi para PKL adalah bekas bioskop Indra yang berada tepat di depan pasar Beringharjo. Bangunan tersebut sudah mulai direnovasi sejak 2018 lalu, saat ini sudah selesai dan siap untuk dipergunakan.

Bagunan tersebut terdiri dari 3 lantai dan terbagi menjadi lima zona. Dimana pada lantai basement yang memiliki lahan sebesar 1.112 m² akan difungsikan untuk para PKL menyimpan gerobak mereka. Pada bagian tersebut, bisa menampung 37 gerobak serta 32 motor.

Lalu di lantai dasar, akan diperuntukan untuk para pedagang makanan kering. Luasnya sendiri adalah 1.205 m² dan dapat menampung PKL sebanyak 122 orang. Pada lantai tersebut juga digunakan untuk pusat souvenir dengan kapasitas 120 orang dan luas 1.007 m².

Kemudian, pada lantai berikutnya atau lantai teratas. Merupakan pusat penjual pakaian, berkapasitas 117 PKL dan ada pula sentra khusus bagi pedagang makanan, yakni Taman Kuliner yang lokasinya tidak terlalu jauh dari gedung utama dan bisa menampung sebanyak 79 PKL.

Walau sempat terjadi masalah terkait bangunan bekas bioskop ke pihak Pemda DIY, namun pada akhirnya dimenangkan oleh pihak pemerintah ketika proses PK (Peninjauan Kembali). Sehingga saat ini lahan tersebut sudah secara resmi menjadi milik Pemda dan dapat digunakan untuk sentra UKM.

Sosialisasi yang dilakukan kepada PKL di Malioboro mengenai relokasi tersebut sebenarnya sudah dilaksanakan oleh Pemda DIY sejak tahun 2018. Awalnya pihak Pemda DIY lebih memprioritaskan untuk memindahkan yang ada di Kompleks Kepatihan serta DPRD DIY. Tetapi rencana itu tidak kunjung dilaksanakan tahap sosialisasi belum selesai.  

Alasan UKM di Malioboro Direlokasi

  • Penataan Kawasan

Sri Sultan HB X memang sudah menantikan waktu yang tepat agar bisa melakukan penataan area Malioboro yang saat ini telah dibenahi mulai dari bagian utara hingga ke selatan. Sri Sultan sendiri mengatakan bila sudah menunggu selama 18 tahun untuk merelokasi.

Beliau juga memberikan respon mengenai masalah pengunduran relokasi, karena banyak yang meminta untuk diundur selama 3 tahun. Karenanya beliau merasa bila inilah waktu yang tepat untuk membenahi area Malioboro, 18 tahun sudah cukup lama.

  • Mengembalikan Fungsi Trotoar

Beliau juga merasa bila relokasi sudah tidak bisa diundur lagi, karena bagaimanapun juga lokasi digunakan oleh pedagang merupakan trotoar yang seharusnya diperuntukkan bagi pejalan kaki. Karenanya Sri Sultan ingin mengembalikan fungsinya, selain itu lokasi dimana PKL berada juga merupakan hak dari toko-toko di sana.

  • Mendukung Rencana Pemda DIY Bekerjasama Dengan UNESCO

Sri Sultan menjelaskan bila relokasi PKL ini merupakan sebuah upaya dalam mendukung adanya rencana bekerja sama antara Pemda DIY dengan UNESCO. Sebab pihak DI Yogyakarta sendiri memang sedang mengusulkan kepada UNESCO untuk memasukkan area Sumbu Filosofi (Panggung Krapyak, Kraton dan Tugu) dalan warisan dunia.

  • Meningkatkan Kawasan Pedestrian

Sri Sultan juga mengungkapkan bila relokasi PKL yang sedang dilaksanakan saat ini memiliki tujuan guna mengembangkan sistem pejalan kaki agar semakin berkualitas pada kawasan pedestrian dan membuka akses Jalan Malioboro juga Margomulyo yang dijadikan untuk pusat kota.

Alasan penolakan relokasi oleh PKL di Malioboro

Tentunya para PKL yang sudah lama menjajakan dagangannya di kawasan Malioboro tidak serta merta setuju akan rencana pemindahan tersebut, mereka merasa bila Pemda DIY tidak memikirkan nasib dari para PKL. Berikut alasan-alasan penolakan terkait relokasi oleh para PKL di Malioboro.

Alasan yang pertama terkait dengan keadaan ekonomi PKL yang selama pandemi dalam kondisi yang tidak baik dan bila harus pindah maka mereka mau tidak mau seperti memulai dari awal. Padahal dalam kondisi seperti ini, sulit untuk meningkatkan penghasilan.

Alasan yang kedua, karena tidak adanya informasi mengenai lokasi baru untuk mereka tempati. Seberapa besar kapasitasnya guna menampung para PKL yang ada di Malioboro. Mereka meminta pihak Pemda untuk mengajak perwakilan dari pedagang meninjau lokasi baru.

Perwakilan dari PKL tersebut merasa bila lokasi yang baru tidaklah memadai dengan jumlah PKL yang ada karena pihak Pemda terlebih dulu membangun tanpa melakukan pendataan terlebih dahulu. Sehingga nantinya tidak semua pedagang dapat berjualan di lahan yang baru.

Leave a comment

Your email address will not be published.