Dampak Harga Minyak Goreng, Harga Gorengan Juga Ikut Naik!

Saat ini seperti yang sedang banyak dirasakan oleh ibu rumah tangga maupun para pedagang gorengan, yaitu melonjaknya harga minyak goreng di pasaran. Harga termurah yang saat ini ada saja sekitar Rp 20.000, itu pun bukan minyak goreng dengan brand ternama.

Melonjaknya harga minyak ini, tentunya memberikan dampak yang cukup signifikan. Tidak hanya pada masalah ekonomi di dapur rumah tangga, tetapi juga bagi pedagang makanan khususnya gorengan. Dimana yang biasanya mereka masih bisa menjual per satuannya dengan harga Rp 500 atau Rp 2.000 per 3 gorengan, kini mau tidak mau para penjual harus menaikkannya.

Mungkin tidak hanya pada gorengan saja, untuk jenis makanan lain yang menggunakan minyak goreng. Juga dengan terpaksa harus menaikkan harga makanan yang dijualnya agar tidak terjadi kerugian besar, karena bagaimanapun mereka tetap harus mempertahankan mata pencahariannya. 

Harga tertinggi dari minyak goreng

Semenjak pemerintah mencabut HET minyak goreng dalam kemasan sederhana di harga Rp 13.500/ liter dan kemasan premium Rp 14.000/ liter. Tentunya membuat harga minyak menjadi ditentukan melalui mekanisme pasar serta disesuaikan dengan keekonomian.

Dengan begitu menjadikan harga minyak kemasan kian melonjak. Saat sebelumnya minyak dengan kemasan 2 Lt dihargai Rp 28.000/ pouch, sekarang bisa mencapai Rp 50.000/ pouch. Namun, sebagai ganti dari meningkatnya harga minyak kemasan. Pemerintah memberikan keringanan (subsidi) pada minyak curah, walau harganya tidak Rp 11.500/ liter melainkan Rp 14.000/ liter.

Berikut adalah harga minyak goreng per April 2022 :

  • Minyak goreng literan atau curah adalah Rp 14.000 per liter.
  • Minyak goreng dalam kemasan sederhana adalah Rp 23.500 per liter.
  • Minyak goreng dalam kemasan premium adalah Rp 44.000 per liter. 

Alasan mengapa minyak goreng menjadi langka dan mahal

Tetapi, setelah kemarin harga minyak sempat turun pada harga 14 ribu per liternya, malah ketersediaan minyak menjadi langka. Hal ini membuat banyak orang merasa dipermainkan oleh pemerintah dan menganggap bila pemerintah memang sengaja melakukan hal tersebut.

Bahkan sebagian besar masyarakat juga sempat menerka-nerka bila nantinya minyak goreng akan kembali melonjak dengan harga yang lebih tidak masuk akal dan hal ini benar adanya. Namun, sebenarnya apa yang menyebabkan minyak goreng menjadi mahal?

Terjadinya lonjakan pada minyak nabati di dunia

Terjadinya kenaikan minyak goreng sekarang ini dikarenakan harga dari CPO dunia sedang meningkat menjadi $ 1.340/MT. Dimana kenaikan harga tersebut menyebabkan minyak goreng di Indonesia harganya ikut naik secara signifikan.

Namun, ada hal lainnya yang menjadi faktornya, yaitu lonjakan harga dari minyak nabati. Penyebabnya adalah adanya gangguan cuaca dan membuat tingkat produksi menurun secara total dan sebanyak 3,5%  tahun 2021 yang lalu.

Padahal, ketika lockdown sudah tidak ketat, permintaan akan minyak tersebut meningkat. Menurut Dirut GIMNI, yakni Bapak Sahat Sinaga bahwa produksi dari minyak nabati ini pada tahun 2022 tidak akan jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Sementara, permintaan diprediksi semakin meningkat menjadi 240 juta ton.

Permintaan biodiesel guna program b30

Pihak pemerintah mempunyai program B30, yaitu mewajibkan adanya Biodiesel sebanyak 30% dan dicampur dengan 70% BBM jenis Solar. Dimana tujuan program tersebut adalah supaya dapat mengurangi impor BBM dan meningkatnya devisa negara.

Tetapi, karena saat ini keadaanya sedang tidak stabil, dimana produksi dari CPO sedang turun. Di sisi lainnya kebutuhan masyarakat terkait minyak goreng tetaplah tinggi. Adanya usulan dari pengusaha supaya mandatori B30.

Yaitu kewajiban dimana harus melakukan pencampuran antara minyak sawit 30%  dan  solar harus kembali dikurangi. Maksudnya. kebijakan mandatori B30 akan menjadi sasaran guna menekan lonjakan dari harga minyak di Tanah Air.

Pandemi Covid-19

Kemunculan virus covid 19 di seluruh dunia tentunya menjadi salah satu penyebab utama mengapa harga minyak bisa terus meningkat. Pasalnya dikarenakan adanya pandemi, produksi CPO jadi menurun secara drastis.

Selain karena hal tersebut, arus logistik ikut terdampak. Oke Nurwan, Dirjen Perdagangan mengatakan bila menurunnya suplai minyak sawit di dunia dibarengi dengan turunnya pasokan kelapa sawit yang berasal dari Malaysia yang merupakan penghasil terbesar.

Faktor lain yang menjadi penyebabnya adalah gangguan logistik yang terjadi selama pandemi, misalnya berkurangnya jumlah kapal dan kontainer.

Karena adanya gangguan tersebut, tentu mempengaruhi harga dari minyak goreng yang saat ini sedang melonjak.

Padahal kebutuhan Indonesia akan minyak goreng adalah sebanyak 5,06 juta ton/ tahunnya, sedangkan untuk produksinya dapat menyentuh angka 8 juta ton. Walaupun Indonesia merupakan produsen CPO terbesar, tetapi jika keadaan lapangan memperlihatkan bila sebagian besar dari produsen tersebut menjadi terintegrasi sebagai produsen CPO. 

Kemudian dengan entitas usaha yang berbeda, pastinya produsen minyak di dalam negeri wajib membeli CPO yang disesuaikan dengan nilainya di pasar lelang, yakni harga sesuai KPBN Dumai dan terkolerasi dengan pasar internasional. 

Leave a comment

Your email address will not be published.